Dalam paradigma pendidikan konvensional, tugas rumah atau PR sering dianggap sebagai instrumen wajib untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan di kelas. Namun, belakangan ini, sebuah kebijakan progresif mulai diterapkan di SMAN 1 Jember yang menarik perhatian banyak kalangan. Para pengajar di sekolah tersebut mulai secara sadar mengurangi intensitas tugas rumah yang diberikan kepada siswanya. Langkah ini bukan diambil tanpa alasan, melainkan didasarkan pada riset internal dan kepedulian mendalam terhadap kesejahteraan mental serta efektivitas belajar siswa di era modern.
Alasan utama di balik kebijakan untuk mengurangi tugas rumah ini adalah keinginan untuk memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka di luar bidang akademik formal. Pihak sekolah menyadari bahwa jika waktu siswa habis hanya untuk mengerjakan tumpukan soal di rumah, mereka akan kehilangan kesempatan berharga untuk berorganisasi, melakukan hobi, atau sekadar beristirahat yang cukup. Istirahat yang berkualitas justru merupakan kunci bagi otak untuk memproses informasi dengan lebih baik. Dengan beban PR yang berkurang, siswa diharapkan bisa kembali ke sekolah keesokan harinya dengan kondisi pikiran yang lebih segar dan siap menyerap ilmu baru.
Selain itu, efektivitas belajar kini lebih difokuskan pada penguatan pemahaman di dalam kelas. Guru-guru di SMAN 1 Jember kini menerapkan metode pembelajaran aktif yang memastikan materi tuntas dipahami saat jam pelajaran berlangsung. Sesi diskusi, praktik langsung, dan tanya jawab intensif diperbanyak untuk menggantikan fungsi latihan soal di rumah. Hal ini menuntut kreativitas guru dalam mendesain skenario pembelajaran yang menarik agar waktu di kelas menjadi lebih produktif. Pergeseran fokus ini bertujuan agar siswa tidak merasa terbebani secara psikologis saat berada di lingkungan rumah yang seharusnya menjadi tempat untuk relaksasi.
Pengurangan tugas ini juga berdampak positif pada hubungan sosial siswa dengan keluarga. Di masa lalu, banyak keluhan muncul dari orang tua yang melihat anak-anak mereka stres dan kurang bersosialisasi karena terlalu sibuk dengan tugas sekolah hingga larut malam. Dengan adanya kebijakan baru ini, interaksi antar anggota keluarga menjadi lebih berkualitas. Siswa memiliki waktu untuk berdiskusi dengan orang tua mengenai hal-hal di luar pelajaran sekolah, yang secara tidak langsung membentuk kematangan emosional dan sosial mereka. Karakter siswa yang seimbang antara kecerdasan kognitif dan sosial menjadi target jangka panjang dari sekolah ini.
