Masa SMA merupakan periode transisi penting, bukan hanya dalam hal akademik dan perkembangan psikologis, tetapi juga dalam kemandirian finansial. Pembekalan Literasi Keuangan sejak dini sangat penting karena ia merupakan keterampilan hidup mendasar yang menentukan kualitas keputusan finansial seseorang di masa dewasa. Literasi Keuangan di usia remaja mencakup kemampuan mengelola uang saku, menyusun anggaran sederhana (budgeting), hingga memahami konsep dasar investasi. Kemampuan ini adalah fondasi yang kokoh untuk mencegah jebakan utang di masa depan dan membangun kekayaan secara berkelanjutan.
Langkah awal dalam penguasaan Literasi Keuangan adalah praktik budgeting. Siswa perlu belajar membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Mereka bisa mulai dengan mencatat semua pemasukan (uang saku harian/bulanan) dan pengeluaran selama satu bulan penuh. Berdasarkan data pengeluaran yang dicatat oleh siswa Kelas XI IPS 2 SMA Bintang Timur pada September 2025, ditemukan bahwa 35% dari uang saku mereka dihabiskan untuk kebutuhan yang tidak esensial seperti snack berlebihan atau game online. Dengan visualisasi data ini, siswa dapat mengidentifikasi area pemborosan dan mulai mengalokasikan dana untuk tabungan atau kebutuhan yang lebih penting.
Setelah budgeting dikuasai, langkah berikutnya adalah memahami konsep tabungan dan investasi sederhana. Tabungan memiliki tujuan jangka pendek (misalnya membeli gadget baru dalam enam bulan), sementara investasi adalah untuk tujuan jangka panjang. Sekolah dapat memainkan peran krusial Guru dengan menyelenggarakan program edukasi. Misalnya, Guru Ekonomi, Bapak Subroto, di SMA Negeri 9 Jakarta, mengadakan sesi simulasi investasi saham dan reksa dana mikro setiap hari Jumat pukul 14.00, menggunakan aplikasi dummy trading. Simulasi ini memberikan pengalaman praktis tanpa risiko kerugian uang sungguhan, memperkenalkan konsep bunga majemuk, risiko, dan imbal hasil.
Pentingnya Literasi Keuangan juga ditekankan oleh lembaga regulator. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada rilis datanya di awal tahun 2024, menargetkan peningkatan indeks literasi keuangan nasional hingga mencapai 70% pada tahun 2028, dan menempatkan pendidikan remaja sebagai salah satu fokus utama. Pemberian materi dan praktik Literasi Keuangan di usia SMA adalah investasi terbaik yang dapat dilakukan oleh siswa untuk masa depan mereka, mengubah mereka dari konsumen pasif menjadi manajer keuangan yang bijak dan bertanggung jawab.
