Dalam hiruk pikuk persiapan ujian nasional, kompetisi nilai, dan tuntutan akademik, seringkali terjadi bahwa salah satu elemen terpenting dari pendidikan holistik—yaitu pembelajaran sosial-emosional—terabaikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Padahal, kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan orang lain, atau yang dikenal sebagai Membentuk Karakter Empati, adalah fondasi penting untuk interaksi sosial yang sehat, kepemimpinan yang efektif, dan kehidupan bermasyarakat yang harmonis. Di tengah meningkatnya kasus perundungan dan intoleransi di kalangan remaja, penekanan untuk Membentuk Karakter Empati kini menjadi semakin mendesak.
Empati bukan sekadar perasaan kasihan; ini adalah keterampilan kognitif dan emosional yang dapat dilatih. Di lingkungan sekolah, guru dan kurikulum memiliki peran sentral dalam menanamkan keterampilan ini. Salah satu metode yang efektif adalah melalui simulasi dan role-playing. Misalnya, dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, siswa dapat diminta menganalisis sebuah cerita pendek atau novel dari sudut pandang tokoh yang berbeda latar belakang. Mereka harus menuliskan refleksi tentang bagaimana perasaan dan keputusan tokoh tersebut terbentuk, yang secara langsung melatih mereka untuk melihat dunia dari perspektif lain. Implementasi program ini, yang diujicobakan pada hari Kamis, 6 Maret 2025, di 15 sekolah percontohan di Kabupaten Sleman, menunjukkan peningkatan signifikan dalam kesadaran sosial siswa terhadap isu-isu keragaman.
Kegiatan proyek komunitas juga merupakan cara ampuh Membentuk Karakter Empati. Ketika siswa terlibat langsung dalam kegiatan yang melayani pihak lain—misalnya, mengunjungi panti jompo pada hari Pahlawan setiap tanggal 10 November, atau menggalang dana untuk korban bencana—mereka berhadapan langsung dengan realitas kehidupan yang berbeda dari pengalaman mereka sehari-hari. Kontak langsung ini memecah tembok isolasi dan egoisme remaja, menumbuhkan rasa kepedulian yang autentik. Menurut laporan dari Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) tahun 2024, siswa yang terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan selama minimal 50 jam per tahun menunjukkan penurunan kecenderungan perilaku antisosial sebesar 35%.
Tantangan terbesar dalam Membentuk Karakter Empati di SMA adalah mengatasi fokus tunggal pada prestasi individu. Budaya kompetisi yang terlalu intens seringkali membuat siswa hanya fokus pada diri sendiri. Oleh karena itu, sekolah perlu secara sadar menciptakan iklim yang mengapresiasi kolaborasi dan kebaikan (kindness) sebagai nilai utama. Guru Bimbingan dan Konseling (BK), dengan jadwal sesi kelompok rutin setiap hari Jumat sore, memiliki peran penting dalam memfasilitasi diskusi terbuka mengenai konflik, bullying, dan perasaan. Dengan menjadikan pendidikan sosial-emosional sebagai prioritas, sekolah dapat memastikan bahwa lulusan SMA tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga menjadi individu yang peka, bertanggung jawab, dan memiliki kapasitas untuk Membentuk Karakter Empati yang kuat, sehingga siap menjadi anggota masyarakat yang konstruktif.
